Uncategorized

Jangan Lupa Bahagia!

“Brengsek! Kenapa hidupku harus begini!”

“Hahaha lucu ya.”

“Ah? Apanya yg lucu?”

“Manusia.”

“Ah? Apa sih? Apa maksud kamu?”

“Manusia terlahir dengan sifat alami yang bernama ‘lupa’. Tapi kadang ‘lupa’ sering dijadikan alasan untuk hal-hal yg seharusnya tidak mereka lakukan.”

“Apa hubungannya dengan kekesalanku ini?”

“Kamu manusia. Dan kamu juga sering lupa. Lupa bahwa kamu hidup hanya sebentar. Lupa bahwa hidup yg sesungguhnya belum dimulai. Lupa bahwa dunia yg kamu kejar setiap hari ini hanya sementara. Hingga akhirnya untuk bahagia pun kamu lupa.”

“Tunggu. Lupa bahagia?”

“Iya.”

“Bahagia kok lupa. Ada-ada saja kamu!”

“Hahaha . Coba lihat saja ke diri kamu sekarang. Begitu sering ya makhluk yg bernama manusia ini mengeluh atas hidupnya. Padahal hidupnya baik-baik saja, bahkan banyak orang yg ingin punya hidup seperti dia.”

“Baik-baik saja apanya?! Kamu kan tau hidupku tidak menyenangkan!”

“Entah mengapa kadang standar bahagia seseorang begitu tinggi. Baru bahagia kalau punya harta banyak. Baru bahagia ketika karir menanjak. Baru bahagia saat semua yang diinginkan terkabul. Baru bahagia jika rencananya berjalan lancar. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya kebanyakan orang menghabiskan waktu mereka untuk menunggu kebahagiaan itu datang, sampai akhirnya mereka lupa untuk bahagia.”

“Ah tapi masih ga masuk akal. Masa bahagia bisa lupa.”

“Bisa. Kamu salah satu contoh nyatanya.”

“Aku? Kenapa dengan aku?”

“Pikir saja. Seberapa sering kamu mengeluh dan mengutuk hidupmu yg kamu anggap kurang baik? Seberapa sering kamu berharap bisa menjalani hidup orang lain yg kamu anggap lebih baik dari hidupmu? Seberapa sering kamu marah pada Tuhan karena merasa hidup ini terlalu tidak adil padamu?”

“…..”

“Kenapa diam saja? Tidak bisa kamu jawab kan?”

“Lalu aku harus bagaimana? Hidupku memang kurang beruntung.”

“Yak. Here we go again. Kamu memang hanya salah satu dari jutaan manusia yg tidak tahu kuncinya bahagia. Padahal bahagia itu ada di dalam diri kamu. Dia hanya perlu kamu jemput.”

“Dijemput? Dengan apa? Bagaimana?”

“Dengan bersyukur.”

“Bersyukur?”

“Iya. Bersyukur. Tidak ada hidup yg beruntung atau hidup yg tidak beruntung. Tuhan Maha Adil, kamu tau itu. Kamu hanya terlalu sombong untuk bersyukur. Kamu tak pernah lelah meminta pada Tuhan, tapi kamu tidak pernah merasa cukup dengan pemberiannya. Dasar manusia.”

“Aku bersyukur kok!”

“Seberapa sering? Seberapa banyak? Apa sesering kamu meminta pada-Nya? Apa sebanyak nikmat yg telah Dia beri padamu? Aku rasa tidak.”

“…”

“Kamu tidak lelah merasa marah pada hidupmu hampir setiap hari dan setiap kau punya masalah?”

“Aku lelah. Tapi aku memang tidak bahagia dengan keadaanku.”

“Kamu tidak bahagia karena kamu tidak mau bahagia, bukan karena kamu tidak bisa bahagia.”

“Tentu aku mau bahagia! Jangan asal bicara kamu!”

“Kalau begitu, buktikan. Bersyukurlah.”

“Bersyukur atas apa? You know my life is suck!

“Bersyukurlah atas hal sekecil apa pun dalam hidupmu. Bahagia itu tidak sejauh yg kamu pikir. Dia ada di dalam dirimu. Jemput dia dengan syukur dan senyum. Jangan malah menjauh darinya dengan keluh kesah dan amarah. Percaya padaku, bahagia itu hanya sejauh rasa syukur yg sering terlupa.”

“Begitu ya? Kenapa kamu begitu yakin? Kamu bagian dari aku, bagaimana aku bisa percaya padamu?”

“Kenapa kau tidak bisa percaya pada hatimu? Aku bagian dari dirimu yg Tuhan desain untuk menjadikanmu manusia seutuhnya. Kamu hanya sering lupa bahwa aku ada. Sudahlah. Tidak ada gunanya aku berdebat denganmu, Ego. Percaya saja padaku! Bersyukurlah sebanyak-banyaknya! Lupakan marahmu itu dan jemput bahagiamu, ya!”

Advertisements
Self Reminder

Yang Lebih Baik

“Diatas langit masih ada langit. Akan selalu ada orang yang (terlihat) lebih baik. Mungkin hanya rasa syukur yang dapat menghentikan pencarian dan cukup mengembangkan apa yang sudah dimiliki.”
Tidakkah kamu lelah terus membusungkan dada dan mendongakkan kepala?
Mari, berhenti sejenak, turunkan pandangan, dan padamkan segala hasrat keinginan.
Mari, angkat tangan untuk memberi, bukan lagi untuk terus meminta.
Poetry

Jatuh, Lagi

Aku jatuh lagi, akhirnya.
Ke jurang yg sama.
Cara jatuhnya saja yg berbeda.

Kurang rapatkah pintu itu aku kunci?
Atau kamu mendobraknya dg begitu baik?
Sehingga aku bisa tergelincir, lagi.

Ah!
Jangan coba menghiburku.
Persetan jurang itu bernama cinta.
Yg namanya jatuh, tetap saja sakit.

Random Thoughts

Perjalanan Ke Rumah

Hidupmu saat ini adalah perjalanan pulang ke rumah abadimu.

Perjalanan penuh rintangan yang dihiasi dengan tujuan dan dibatas oleh waktu.

Fokus pada tujuan, kamu akan dapat keuntungan.

Fokus pada rintangan, maka kegagalan tidak akan terelakkan.

Pertanyaannya, sudah benarkah tujuan-tujuan yang kamu buat?

Pencapaian adalah salah satu yang terpenting yang akan kamu perhitungkan dalam tujuan-tujuan di hidupmu.

Tapi jangan lupa.

Pencapaian dalam urusan di bumi tetaplah pandanganmu membumi.

Agar tidak lelah kepalamu menahan ketidakpuasan.

Pencapaian dalam urusan di langit barulah boleh pandanganmu setinggi langit.

Agar tidak lelah hatimu mengusahakan kebaikan.

Akan banyak orang yang datang silih berganti dalam hidupmu.

Sebagian akan tinggal, sebagian lagi akan meninggalkan.

Akan selalu terjadi tawar menawar dalam menerima atau menolak seseorang.

Pastikan saja dia tidak menghalangi tujuan atau menambah rintangan hidupmu.

Ingat, perjalananmu dibatas waktu.

Rumah yang kamu dapat bergantung pada perjalanan yang kamu buat.

Maka, rencanakan dan laksanakan perjalananmu dengan baik agar kelak baik pula rumahmu.

Selamat meneruskan perjalanan!

Semoga kelak kita sama-sama mendapatkan rumah yang baik! 🙂

 


 

Jatinangor, 07 Oktober 2015

Poetry

Sabar Merindu

Hari ini kita menabung rindu.
Esok lusa tidak usah kau sendu.
Nanti akan datang hari dimana hilang semua tabu.
Hari dimana kamu bisa luruh dalam hangatnya pelukku.
Dan aku bisa larut dalam manisnya kecupmu.
Bersabarlah. Merindulah dengan sujud dan doamu.
Mintakan pada-Nya agar kita bisa segera bersatu.

Jatinangor. 071015. hujan. sore-sore. di depan skripsi. sambil dibuat rindu sama seseorang 🙂